Showing posts with label Tasawwuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawwuf. Show all posts

Saturday, September 16, 2017

Al Madad Fil Masyhad : Sebut Namaku Dan Berjalanlah Di Atas Air


"Al Madad Fil Masyhad"
Karunia, pertolongan, dan keberkahan dari Allah berbanding lurus dengan cara pandang dan keyakinan kita"
=======
Tidak dipungkiri bahwa keagungan Nabi ﷺ melebihi segalanya, termasuk keagungan para Anbiya’ sebelumnya dan para Auliya' sesudahnya. Rasulullah ﷺ adalah batangnya (ashl ) sedang mereka semua adalah cabang-cabangnya (far’u).

"Wakulluhum min Rasulillahi multamisun, ghorfan minal bahhri au rashfan minad diyami."
Mereka semua meneguk secakup air dari lautan kemuliaan Rasulullah ﷺ. Atau mereka menyesap tetes-tetes air dari hujan kemuliaannya, ~ Al Bushiriy.

Thursday, April 6, 2017

Tasawuf dan Wali menurut Hadhratus Syeikh Hasyim Asy'ari

KH. Hasyim Asy’ari
“Barangsiapa yang mengaku dirinya wali tanpa kesaksian bahwa dia mengikuti syari'at Nabi Muhammad ﷺ, maka pengakuan tersebut dusta bohong.”
[Hasyim Asy’ari, Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 4]

Syeikh Hasyim berpendapat, wali tidak akan memamerkan dirinya sebagai wali. Justru seorang sufi tidak menyukai popularitas. Beliau mengatakan, “Jenis fitnah itu banyak sekali. Di antara yang banyak merusak seorang hamba adalah pengakuan seseorang menjadi guru tarekat dan wali. Bahkan sampai mengaku dirinya wali quthb, dan imam mahdi. Padahal mereka bukan ahli syari'at.”
[Al-Dhurar al-Muntatsirah fi al-Masa’il al-Tis’a ‘Asyarah, hal. 1]

Monday, April 3, 2017

Kesetiaan Kaum Sufi Terhadap Syari'ah


Kesalah fahaman terhadap ilmu tasawwuf yang melahirkan tuduhan sesat biasanya bersumber dari ketidak fahaman tentang hakikat tasawwuf yang terkait dengan syari'ah. Anggapan keliru yang beredar, kaum sufi tidak terlalu taat pada syari'ah, bahkan ada yang menafikan syari'ah.

Padahal, mempraktikkan syari'ah pada taraf sempurna itulah akan ditemukan intisari tasawwuf. Syari'ah yang dijalankan dengan sempurna itu tidak sekedar hukum dzahir, tapi juga mementingkan fiqih batin.

Saturday, April 1, 2017

Syariat, Tarekat (Thariqah), Dan Hakikat (Haqiqah)

Sayyid ‘Abdullah bin Abu Bakar Al-‘Aidarus[1] ra berkata :

Menurut para sufi, syariat adalah ibarat sebuah kapal, tarekat adalah lautnya, dan hakikat adalah permata yang berada di dalamnya. Barang siapa menginginkan permata, maka dia harus naik kapal kemudian menyelam lautan hingga memperoleh permata tersebut.

Kewajiban pertama penuntut ilmu adalah mempelajari syariat. Yang dimaksud dengan syariat adalah semua perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ, seperti wudhu, shalat, puasa, zakat, haji, mencari yang halal, meninggalkan yang haram, dan berbagai perintah serta larangan lainnya. Seyogyanya seorang hamba menghiasi lahirnya dengan pakaian syariat hingga cahaya syariat tersebut bersinar dalam hatinya dan kegelapan insaniyyah sirna dari hatinya. Akhirnya dia dapat menempuh tarekat dan cahaya tersebut dapat selalu bersemayam dalam hatinya.

Tarekat adalah pelaksanaan takwa dan segala sesuatu yang dapat mendekatkanmu kepada Allah, seperti usaha untuk melewati berbagai manazil dan maqam. Setiap maqam[2] memiliki tarekat tersendiri. Setiap guru sufi memiliki tarekat yang berbeda. Setiap guru akan menetapkan tarekatnya sesuai maqam dan hal[3]-nya masing-masing. Di antara mereka ada yang tarekatnya duduk mendidik masyarakat. Ada yang tarekatnya banyak membaca wirid dan mengerjakan shalat sunah, puasa sunah, dan berbagai ibadah lainnya. Ada yang tarekatnya melayani masyarakat, seperti memikul kayu bakar atau rumput serta menjualnya ke pasar dan kemudian hasilnya ia dermakan. Setiap guru memilih tarekatnya sendiri.

Adapun hakikat adalah sampainya seseorang ke tujuan dan penyaksian cahaya tajalli, sebagaimana ucapan Rasulullah ﷺ kepada Haritsah, “Setiap kebenaran ada hakikatnya, lalu apakah hakikat keimananmu?”

Haritsah menjawab, “Aku palingkan diriku dari dunia sehingga sama saja bagiku batu, lumpur, mas dan perak. Aku juga membuat diriku lapar di siang hari (berpuasa) dan bergadang di malam hari (shalat malam).”

Keteguhan Haritsah memegang agama Allah, pelaksanaannya terhadap syariat Allah, kehati-hatiannya dan semangatnya untuk bergadang, kehausannya, keberpalingan dirinya dari segala keinginan nafsu adalah tarekat. Sedangkan tersingkapnya berbagai keadaan akhirat kepada Haritsah dan cintanya kepada Allah adalah hakikat.[4]

۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰

[1] Sayyid ‘Abdullah bin Abû Bakar Al-‘Aidarûs bin ‘Abdurrahman Assaqqaf ra lahir di kota Tarim Hadhramaut pada tahun 811 H.

[2] Maqam : kedudukan, derajat, atau tingkat kehidupan rohani. Maqam ini dicapai dengan latihan (riyadhah) dan perjuangan (mujahadah).

[3] Hal : perubahan keadaan hati yang datang dari Allah. Keadaan luar biasa yang meliputi seseorang.

[4] Sayyid ‘Abdullah bin Abû Bakar Al-‘Aidarûs, Al-Kibritul Ahmar wal Iksirul Akbar, cet. ke-1, Musthafa Al-BabiAl-Halabi, Mesir, 1933/1352, hal. 72.

۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰


۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰ ۰۞۰

Berdosakah Kita Bila Tidak Mengamalkan Hadits Shahih?

Pertanyaan : Assalamu ‘alaikum wr. wb. Bila ada hadits yang shahih dan telah disepakati keshahihannya oleh para ulama ahli hadits,...